Bekas Sujud

Arti ‘atsari sujud menurut bahasa adalah bekas sujud. Namun bila dikaji lebih mendalam makna dari ‘atsari sujud sangat penting artinya bagi umat Islam, tidak hanya sekedar bekas sujud dikarenakan seringnya sholat seperti tanda dikening tapi sebagai bentuk ketaatan dan ketabahan manusia dalam menyampaikan risalah sehingga mempunyai efek yang berarti bagi peradaban manusia.

Kata ‘atsari sujud bisa dilihat dalam Al-Qur’an surat 48 (Al-Fath) ayat 29 yang berbunyi “Muhamad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap bentuk kekafiran, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka ruku dan sujud mencari karunia Allah dan keridhoan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. …..”

Dalam pemahaman sehari-hari sujud merupakan salah satu rukun sholat dengan posisi muka, telapak tangan dan ujung jari kaki sejajar dengan tanah/lantai. Namun makna aktual sujud dalam konteks ‘atsari sujud adalah ketaatan dan kepatuhan manusia kepada sang Maha Pencipta, Maha Pengatur alam ini, yang Maha Berilmu yaitu Allah SWT. Oleh karena itu manusia mutlak harus mentaati aturan-aturan yang diturunkan Allah melalui Kitabullah dan mematuhi aturan-aturan Alam (termasuk ilmu fisika, kimia, biologi, matematika dan sebagainya) sebagai wujud representasi Allah dalam mengatur alam (ayat-ayat kasar/kauniyah).

Aturan umum dari ilmu Allah yang ada di alam bahwa bila manusia berbuat baik terhadap alam (menata dan membangun) maka alam pun akan berbuat baik kepada manusia dengan memberi manfaat yang banyak untuk kepentingan manusia. Dengan demikian bumi menjadi tertata seperti taman dan layak untuk di tempati yang diistilahkan dengan surga dunia.

Maka sebaliknya apabila manusia berbuat jahat (merusak) terhadap alam/bumi maka alam/bumi akan menjadi rusak sehingga bumi menjadi tidak layak dihuni. Dengan demikian kondisi bumi yang tidak tertata, dan rusak ditambah dengan perilaku/ahlak manusia yang tidak bermoral maka kondisi tersebut menjadi neraka di dunia.

Banyak sekali contoh keadaan bumi seperti neraka yang pada dasarnya akibat ahlak/ moral manusia yang rusak. Penebangan liar sebagai satu contoh yang menyebabkan hutan gundul, efek dari hutan gundul mengakibatkan banjir dan tanah longsor, terjadinya efek rumah kaca yang menyebabkan suhu udara bumi makin panas dan air laut naik karena es di kutub serta gletser di puncak gunung banyak yang mencair, secara otomatis banyak daratan atau pulau yang tenggelam. Contoh lain akibat pencemaran limbah beracun yang menyebabkan hancurnya ekosistem atau bau yang menyengat akibat polusi udara.

Maka aturan Allah di alam/bumi ini berlaku atas semua manusia. Apabila manusia memahami dengan sebenar-benarnya aturan itu maka manusia cenderung berbuat baik kepada alam (membangun). Inilah bentuk aktual bahwa manusia sujud/patuh terhadap sang Maha Pencipta yang mngatur alam ini.

Selanjutnya, manusia harus sujud/patuh terhadap ajaran ilahi yang tercantum dalam Kitabullah (Al-Qur’an), yang mengatur hubungan manusia dengan Allah, manusia dengan manusia dan hubungan manusia dengan alam. Semua aturan-aturan dalam Kitabullah merupakan prinsip-prinsip kehidupan yang harus diurai terlebih dahulu sehingga dapat dimengerti oleh manusia. Ajaran ilahi yang dilaksanakan manusia secara murni dan konsekwen akan membentuk manusia menjadi insan kamil (manusia paripurna) yang sanggup menjadi wakil Allah di alam (tawakal ala Allah) dan menjadi kholifah/ pemimpin yang mengatur bumi atas petunjuk Kitabullah.

Kholifah yang patuh terhadap aturan-aturan Allah inilah yang akan mampu menciptakan peradaban manusia yang diridhoi Allah. Suatu pradaban yang mencintai Allah dan rosulnya, senantiasa menegakkan supremasi hukum tanpa pandang bulu, menegakkan hak asasi manusia yang sejalan dengan ajaran ilahi, benci terhadap bentuk kekafiran, memberantas kemaksiatan, memerangi kebodohan dan kemiskinan serta mampu mensejahterkan rakyat yang dipimpinnya.

Pemimpin itulah yang akan dicintai oleh rakyatnya, maka rakyat tidak segan-segan membantu dalam mewujudkan keinginan pemimpinnya. Banyak contoh pemimpin yang berhasil dalam membangun peradaban yang diridhoi oleh Allah yang bisa dilihat dari hasil karyanya dan mampu bertahan sampai sekarang.

Dalam Qur’an surat 21 (al-Anbiya) 105 yang berbunyi “Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfudz bahwasanya bumi ini dipusakai oleh hamba-hamba-Ku yang sholeh”. Ayat ini sejalan dengan konsep ‘atsari sujud bahwa bumi akan berikan untuk ditata oleh hamba-hamba Allah yang sholeh, yaitu manusia yang berbuat baik terhadap alam (membangun) dengan bekerja keras dan selalu meposisikan dirinya menjadi rahmat bagi seluruh alam, serta mampu mempersiapkan generasi yang lebih baik dibanding dirinya untuk masa hadapan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: