Nikmat Allah

Allah telah memberi nikmat kepada manusia tak terhitung jumlahnya. Maka kewajiban manusia adalah bersyukur kepada Allah atas nikmat itu dengan menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya. Caranya dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan DIN (system islam) dengan lurus.

Penegasan bahwa Allah telah memberi nikmat yang banyak diantaranya dalam surat Al-Kautsar (108) ayat 1 – 3, yang artinya “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak// Maka dirikanlah sholat karena Tuhanmu dan berkorbanlah// Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus”.

Beberapa nikmat Allah yang banyak itu diantaranya nikmat melihat, mendengar, merasakan panas dan dingin, mengecap rasa asin, manis, pahit, adanya udara untuk bernafas dan sebagainya. Nikmat Allah itu tidak tergantikan. Namun dengan nikmat yang banyak itu manusia masih banyak yang mendustakannya seakan-akan bahwa nikmat yang ada itu datang dengan sendirinya atau karena hasil usahanya sendiri saja. Padahal semua nikmat yang dirasakan manusia sebab pertamanya dari Allah.

Dalam Al-Qur’an surat 55 (Arohman), Allah telah menyinggung manusia yang telah mendustakan nikmat Allah. Ada 31 ayat yang sama bunyinya yang menyatakan singgungan Allah tersebut yang berbunyi “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan”. Dalam psikologi Qur’an hal itu menunjukkan bahwa masih banyak manusia yang mendustakan nikmat Allah.

Manusia yang mendustakan nikmat Allah akan banyak melanggar ayat-ayat Allah atau perintah-perintah Allah dan sudah dipastikan akan berbuat sewenang-wenang berdasarkan hawa napsunya sendiri. Manusia tersebut hanya mementingkan dirinya sendiri, menumpuk harta dengan jalan tidak halal, tidak mencintai lingkungan bahkan merusak lingkungan, tidak mencintai sesamanya, cenderung berfoya-foya untuk kesenangan dirinya sendiri tanpa menghiraukan penderitaan orang lain, bersikap masa bodoh dan apatis atas kemungkaran yang ada di sekelilingnya bahkan cenderung pro terhadap kemungkaran tersebut karena rasa takut akan bahaya dan ancaman dari manusia yang berbuat mungkar. Padahal Allah Maha pelindung bagi siapa saja yang memerangi segala bentuk kemungkaran.

Manusia yang bersyukur atas nikmat Allah, maka dia akan melaksanakan dengan penuh tanggung jawab perintah Allah dalam ayat kedua surat Al-Kautsar yang berbunyi “Maka dirikanlah sholat karena Tuhanmu dan berkorbanlah”.

Pemahaman bagi umat Islam atas sholat masih sebatas melaksanakan (Asholatu Doa/ Sholat itu doa) belum mencapai makna mendirikan (As Sholatu Imaduddin/ Sholat itu menegakkan din).

Apa buktinya ? Hari banyak umat Islam yang melaksanakan sholat bahkan ketika sholat Jum’at masjid penuh dengan jamaah namun sungguh disayangkan kemungkaran masih merajalela. Padahal Allah dalam Qur’an Surat 29 (Al-Ankabut) berfirman, “… Sesungguhnya sholat mencegah perbuatan keji dan munkar….” Ini adalah suatu ironi sholat dilaksanakan kemungkaran merajalela bahkan adanya sholat tidak ada pengaruhnya atas berbagai kemungkaran yang ada. Maka apabila sholat dilaksanakan dengan benar dalam artian mendirikan sholat yaitu aktualisasi sholat dalam bentuk mencegah perbuatan keji dan munkar dalam kehidupan sehari-hari (sebagai wujud melaksanakan perintah Allah) maka dipastikan (sungguh/ sesungguhnya) kemungkaran di muka bumi ini akan lenyap. Hal ini sesuai dengan Qur’an surat 17 (Al-Isro) ayat 81 yang berbunyi “…Sesungguhnya yang batil/salah/mungkar adalah sesuatu yang pasti lenyap”. Itulah pentingnya mendirikan sholat, maka apabila manusia (umat Islam) mendirikan sholat (mencegah kemungkaran) dan amar ma’rup (menyeru kepada kebaikan) secara terus menerus maka dipastikan akan menegakan din (system) Islam dan apabila umat Islam meninggalkan sholat maka sama dengan menghancurkan din Islam.

Apa itu din ? Makna din ada dalam Qur’an Surat 55 (Ar-Rahman) ayat 1-4 yaitu bahwa Allah yang Maha Penyayang menurunkan ilmu-Nya yaitu Al-Qur’an (sebagai petunjuk) dan Allah menciptakan manusia (untuk beribadah sesuai petunjuk), kemudian Allah mengajarkan manusia petunjuk-Nya (Al-Qur’an) untuk dilaksanakan di bumi supaya manusia selamat. Maka keterikatan dan keterkaitan tiga unsure milik Allah (Al-Qur’an, Manusia dan Bumi) yang tidak bisa dipisahkan itulah sebagai dasar DIN (system Allah).

Kemudian setelah manusia (umat Islam) memahami sholat yang sesungguhnya maka manusia diwajibkan untuk berqorban. Berkorban adalah wujud kongkrit dari yang manusia perjuangkan. Apa yang diperjuangkan ? Yaitu mardhotillah (mencari ridho Allah) dengan cara menegakkan Din Allah (system Allah). Dalam Al-Qur’an Surat 2 (Al-Baqoroh) ayat 207 berbunyi, “Dan diantara manusia ada yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridhoan Allah” . Berkorban pada dasarnya ada dua yaitu diri (siap mental dalam perjuangan yang penuh tantangan) dan harta yang digunakan dalam membiayai aktivitas perjuangan. Pengorbanan manusia untuk mencapai keberhasilan dalam perjuangannya selalu pengorbanan diri dan harta, hal itu berlaku sejak Nabi Adam hingga sekarang.

Apabila diri kita siap dikorbankan dalam perjuangan apalagi harta, maka jangan heran kalau ada manusia yang ikhlas merelakan sebagian hartanya untuk perjuangan di jalan Allah. Mengorbankan diri bukan berarti melakukan bom bunuh diri dengan maksud mengurangi kemaksiatan, tapi berjuang sungguh-sungguh dijalan Allah, tidak pernah berhenti sebelum berhasil. Mencari keridhoan Allah dengan bom bunuh diri adalah tindakan bodoh yang tidak disukai oleh Allah.

Manusia yang tidak mau melaksanakan perintah Allah sesuai dengan ayat-ayat di atas bahkan membenci orang yang berkatifitas dalam memperjuangkan Din Allah dengan diri dan hartanya, bahkan membenci orang-orang tersebut, maka amalannya terputus dan tidak ada nilai ibadahnya di mata Allah. Hal ini sesuai dengan Qur’an surat 108 (Al-Kautsar) ayat 3 yang berbunyi “Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu adalah orang-orang yang terputus”. Bahkan dalam Qur’an Surat 3 (Ali Imron) ayat 112 Allah mengancam bahwa mereka akan diliputi kehinaan, kemurkaan dan kerendahan dimana saja mereka berada.

Demikianlah peringatan dari Allah agar manusia bersyukur atas nikmat yang telah Allah berikan sehingga manusia yang bersyukur tetap dalam kenikmatan itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: