Elegi Kota Tua

Aku terjaga di keremangan malam sudut kota tua
Di pelabuhan harap terdengar sayup
Sekumpulan manusia berdzikir
Untuk dirinya

Lalu Aku menapaki setiap jalan di kota itu

Ku lihat laron-loran bergelimpangan meregang nyawa
Mati terjebak dalam kilatan lampu ;
yang memberinya hidup untuk sesaat
seperti manusia yang tak berdaya

Lalu dikejauhan kulihat kerlip kunang-kunang
Dengan cahaya yang memaksa diri
Ingin menerangi setiap sudut yang ia lalui
Meski seperti terengah dikejar waktu

Fajar mengintai malam yang telah larut
Kunang-kunang berharap mentari lekas bersinar
Seperti Suhuf-suhuf suci yang menerangi
Bagi siapa saja yang mengharap ridho ilahi

September 2005

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: