Angklung dan Reog punya Siapa???

Angklung Reog

Akhir-akhir ini bangsa Indonesia banyak yang kebakaran jenggot gara-gara ada seni budaya yang diakui dan dipatenkan oleh negara lain, seperti angkung, reog Ponorogo, lagu rasa sayange sehingga mampu membangkitkan nasionalisme yang mengarah pada chauvanisme.

Tindakan Malaysia dengan mengakui dan mematenkan kebudayaan dari negara lain memang sungguh keterlaluan dan tidak bisa dibenarkan menurut hukum, namun tanpa disadari bahwa bangsa Indonesia mulai mencintai kebudayaanya. Pemerintah melalui Departemen Kebudayaan dan Pariwisata dibantu pemerintah daerah mulai menginventarisir kekayaan seni dan budaya yang ada di daerahnya untuk kemudian didaftarkan di Departemen Hukum dan HAM setelah itu baru dipatenkan, sehingga kekayaan seni dan budaya Indonesia terlindungi secara hukum.

Pemerintah, baik pemerintah pusat maupun daerah, serta elemen mayarakat yang berkompeten dalam bidang seni dan budaya harus segera mengambil langkah agar bangsa Indonesia mengenal dan mencintai kebudayaan bangsanya, khusunya generasi muda.Di bawah ini beberapa langkah agar masyarakat umum dan generasi muda mengenal dan mencintai kebudayaannya :

Yang pertama, dibangun sanggar—sanggar seni dan budaya, baik disekolah maupun di lingkungan masyarakat, untuk menjaga kelestarian seni dan budaya tersbut dengan cara melatih anak-anak atau peserta didik sampai mahir, sepeti Saung Mang Udjo.

Yang kedua, diadakan pekan raya atau festival seni dan budaya minimal setiap bulan yang disinergikan dengan kunjungan wisata, bisa di adakan di Taman Mini Indonesia Indah, Taman Impian Jaya Ancol, dialun-alun kota atau balai kota di setiap daerah.

Yang ketiga, diadakan kompetisi atau perlombaan seni dan budaya tujuannya untuk meningkatkan kualitas seni dan budaya yang diperlombakan dan memotivasi orang-orang berkompeten di bidang seni dan budaya tersebut untuk menjadi yang terbaik, misalnya perlombaan anglung, arumba, sasando dan sebagainya.

Yang keempat, disiarkan dalam acara televisi secara periodik baik itu dalam bentuk festival, kompetisi ataupun acara khusus seni dan budaya, bila perlu penayangan acara seni dan budaya menjadi sesuatu yang wajib bagi televisi.

Dengan langkah-langkah di atas diharapkan seni dan budaya Indonesia masih bisa disaksikan dan dinikmati oleh anak cucu kita nanti, sebagai budayanya bukan budaya yang diklaim negara lain. Ayo Bangkit Budaya Indonesia…!!!

5 Balasan ke Angklung dan Reog punya Siapa???

  1. ghopink mengatakan:

    Ayo Bangkit Budaya Indonesia…!!!
    ah, bapak……..

    kalo saaya pengennya begini, ga usahlah memperkarakan tuh budaya yang dicuri org. kalo budaya kita di pake orang, sampe orang mengklaim itu milik mereka, biarin aja. artinya orang itu kan saking cintanya, nah kita malah untung, kan budaya kita malah terkenal… he…2020x

    kalo saya sih memperkarakan kekayaan alam kita yang dibawa lari ke negeri2 asing itu. coba kalo semua elemen masyarakat menyikapi ttg kekayaan alam bangsa indonesia yang banyak dikuasai negeri2 penjajah saat ini dengan penyikapan yang sama saat tau budaya kita lagi diklaim malaysia misalnya, saya jamin indonesia bakalan makmur berapapun turunannya!!! inyaAllah ga da lagi cerita busung lapar, pendidikan mahal, biaya kesehatan mahal dsb.

    kenapa sih kita mudah diributkan pada masalah2 yang kecil2, toh itu hanya politik mereka untuk mengalihkan perhatian masyarakat dari isu central!

    kita kan tetep tertawa dengan kecut meski kita bisa ngereok tapi perut melilit…

  2. bagus mengatakan:

    memang ada benarnya apa yang dikatakan oleh komentar sebelumnya mengenai kalau saja penyikapan bangsa kita terhadap hal lain yang juga krusial seperti kekayaan alam dan hal-hal lainnya sama dengancara bangsa kita menyikapi klaim negara jiran itu maka akan banyak kebaikan yang didapat oleh bangsa, tapi tetap tidak bisa dong kita mengatakan biar saja budaya kita dicomot dan diakui oleh bangsa lain agar makin terkenal, mungkin bangsa lain yang masih hidup di abad ini akan tetap mengakui bahwa buday itu berasal dari Indonesia tapi bagaimana dengan anak-cucunya nanti atau bahkan anak cucu kita nanti yang mungkin dengan ironis mengatakan “papah, reog itu di buku pelajaran dibilang berasal dari Malaysia, wah hebat ya Malaysia punya kesenian yang begitu unik” nah kalau begitu kita mau bilang apa!!!kalaupun kita ngotot tetap saja hal itu yang tertulis di banyak buku nantinya kalau kita tidak melawan kklaim itu.
    Satu hal yang memang perlu mendapat perhatian lebih dari kita semua, bahwa sebaiknya kita berkaca kenapa hal ini terjadi sedemikian seringnya tidak saja di bidang budaya, bahkan teritori kita pun terjadi seperti itu, masih ingat Ambalat atau kita tarik lebih jauh lagi Sipadan Ligitan??
    kita baru “nyadar” ketika ancaman itu sudah “duduk di ruang tamu” tapi kita tidak pernah mau sadar ketika ancaman itu masih “mengetuk pintu”, hal ini seperti menjadi suatu standar setting nasional bangsa kita, ironis bukan!!
    Hal ini yang ingin saya berikan kepada semua rekan sebangsa yang membaca blog ini semoga muncul suatu pemikiran baru untuk mengubah sifat jelek bangsa kita ini, mulai dari sekarang, mulai dari hal terkecil dan mulai dari diri sendiri!

  3. ikbal mengatakan:

    pasti indonesia dong

    ngapaiiiiiin juga aku belajar angklung kalau bukan punya indonesia

  4. adek mengatakan:

    Salah satu upaya pelestarian budaya indonesia adalah dengan membuat dokumentasinya, termasuk dokumentasi digital atau elektronik di era informasi ini. Mungkin peran perguruan tinggi bisa dikedepankan di sini. Kegiatan riilnya bisa dalam bentuk penelitian atau pengabdian masyarakat.Yuk kita cintai dan pertahankan budaya indonesia

  5. acep mengatakan:

    benar sekali,..
    itu semua punya kita, negara Republik Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: