Soeharto, Man of The Year

Soeharto menjadi Man of The Year versi Indonesia tahun ini karena mampu menyedot perhatian dan energi dari seluruh lapisan masyarakat di Indonesia, mulai dari kalangan wong ndeso sampai kepala negara di ibukota, apa gerangan penyebabnya???

Sakitnya Soeharto telah menjadi berita hangat di masyarakat, hampir semua media masa meliputinya, tak kurang dari 100 wartawan dalam dan luar negeri hadir di RSPP (Rumah Sakit Pusat Pertamina) menunggu perkembangan terakhir kondisi Soeharto, apalagi sejak diberitakan Soeharto tidak sempat bernafas beberapa lama, sebelum akhirnya bernafas lagi dengan bantuan alat bernafas.

Pada saat diberitakan bahwa Soeharto sempat tidak bernafas, Presiden SBY mengutus Wapres Yusuf Kalla untuk menjenguknya. Kedatangan wapres menambah suasana semakin tegang, kondisi terakhir Soeharto terus ditanyakan, apakah Soeharto telah tiada ataukah masih hidup??

Para pejabat, mantan pejabat tinggi dan berbagai elemen masyarakat berdatangan, bahkan tokoh ASEAN pun menjenguk Soeharto, seperti Mahatir Mohamad, Lee Kuan Yew, menyatakan keprihatinanya dan berdoa atas kesembuhannya, diantara mereka pula masih banyak yang menginginkan mantan presiden RI tersebut diadili. Inilah suatu bentuk keprihatinan yang kontradiksi.

Ketika berkuasa Soeharto mampu menyedot perhatian yang luar biasa dari rakyat Indonesia, jejak langkah dalam membangun pada era kepemimpinannya masih banyak di rasakan rakyat Indonesia, bahkan gelar Bapak Pembangunan telah pula disematkan kepada beliau.

Kepemimpinan Soeharto dengan ciri khas menjaga stabilitas negara dan pertumbuhan ekonomi telah pula membuat Indonesia dijuluki macan Asia.

Keberhasilan di bidang pertanian, menyebabkan Indonesia mampu berswasembada pangan khususnya beras, ini menandakan ketahanan pangan di Indonesia tidak menjadi masalah, artinya negara mampu memberi makan rakyatnya sejumlah 200 juta orang tanpa perlu mengimpor, dimana hal ini (swasembada beras) belum bisa dilakukan oleh para kepala negara setelah Soeharto. Keberhasilan tersebut di atas mendapat perhatian dari badan pangan dunia FAO, kemudian memberinya pengaharggan tertinggi (Golden Award) dari organisasi PBB tersebut, yang diterimanya di Roma Italia.

Stabilitas politik dan keamanan pada era Soeharto, membuat para pengeritik beliau ketakutan bukan kepalang, dengan alasan stabilitas politik dan keamanan si pengeritik yang telah dikategorikan merong-rong negara bisa terancam nyawanya.

Stabilitas keamanan di Asia Tenggara juga dipengaruhi oleh sikap Soeharto selaku kepala pemerintahan, jika Soeharto menyatakan bahwa stabilitas negara mantap maka amanlah Asia Tenggara, hingga ada anekdot “dehem”-nya Soeharto pun mempunyai makna bagi Asia Tenggara.

Kuatnya pemerintahan Soeharto juga menjadi perhatian Amerika Serikat dan Negara-negara Eropah. Setelah era perang dingin dengan ditandai runtuhnya tembok Berlin dan bubarnya Uni Sovyet menjadi negara-negara yang lebih kecil, maka fokus perhatian beralih kepada negara-negara berpenduduk Islam. Sebabnya adalah pemerintah AS terpengaruh oleh buku Samuel Huntington bahwa setelah era perang dingin akan terjadi perbenturan peradaban antara Islam dan Barat.

Kejatuhan Soeharto dari kekuasaannya justru pada saat beliau merasa dekat dengan Islam dan kalangan Islam, ini pula yang memunculkan teori jatuhnya beliau karena ada tekanan dari pemerintah AS serta dukungan pemerintahan AS kepada kalangan nasionalis, ditambah dengan adanya krisis moneter yang juga dimulai oleh pebisnis keuangan barat untuk menjatuhkan rupiah.

Krisis moneter berdampak pada berbagai macam krisis termasuk krisis ekonomi dan moral, ini pula menyebabkan pemerintah dan bangsa Indonesia jatuh miskin, kesulitan hanya sekedar untuk mengisi perut menjadikan bangsa Indonesia bersifat anarkis. Kondisi krisis multi dimensi merupakan kegagalan pemerintah dalam memimpin rakyatnya, sebuah momentum yang tepat untuk menjatuhkan Soeharto, akhirnya beliau mundur setelah mendengar saran dari koleganya dan melihat situasi dan kondisi yang ada.

Tumbangnya Suharto adalah kemenangan AS atau Barat atas Islam. Permusuhan pemerintahan AS dan Barat atas negara berpenduduk Islam masih terasa sampai kini. Tentu pernyataan di atas bukan tanpa bukti, ini bisa kita lihat bagaimana sikap dan tindakan AS dan sekutunya terhadap negara Afganistan, Irak, Iran dan Palestina.

Harapan saya semoga kebijakan politik yang congkak dari pemerintah AS terhadap Islam atau bangsa lainnya, yang di motori Bush junior tidak diteruskan oleh penggantinya.

Akhirnya selamat atas Soeharto menjadi Man of theYear, tahun ini……….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: