Otokritik : Doa yang Tertolak

Berdoa merupakan permintaan kepada Tuhan agar permintaannya tersebut dikabulkan, namun ada bahkan banyak doa yang tertolak dan tidak dikabulkan, sebagai manusia beriman ketika permintaan belum dikabulkan Tuhan kita harus tetap berbaik sangka kepada-Nya.

Doa harus disertai dengan ikhtiar, tanpa ikhtiar mustahil permintaan kita dikabulkan.

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita sering dihadapkan dengan berbagai persoalan yang berat, termasuk didalamnya bencana yang silih berganti menerpa bangsa Indonesia, mulai dari banjir, longsor, kekeringan, gempa, luapan lumpur di Sidoarjo, meletusnya gunung berapi, berbagai kecelakaan pada sarana transportasi dan sebagainya.

Dengan banyaknya bencana seperti itu bangsa Indonesia lalu berdoa agar dijauhkan dari segala bencana, maka diadakanlah doa di masjid-masjid, doa bersama secara nasional, dzikir akbar, isthigosah dan berbagai kegiatan yang dilakukan diawali dan diakhiri dengan doa. Namun mengapa doa itu seakan tidak dikabulkan ??? Padahal telah banyak istighosah, dzikir bersama, dan doa bersama secara nasional sedangkan bencana tidak juga berakhir atau berkurang.

Untuk beberapa kasus atau banyak kasus bencana timbul akibat perbuatan manusia, misalkan bencana banjir atau longsor, kemudian kita berdoa untuk di jauhkan dari banjir dan longsor tersebut, namun usaha kita untuk mencegahnya tidak ada, bahkan penyebab banjir seperti penggundulan hutan tidak dihentikan. Maka bisa dipastikan doa kita akan tertolak, alih-alih permintaan kita dikabulkan yang terjadi malah kita dibenci Allah, karena tidak ada usaha untuk mencegahnya. Amat besar kebencian di sisi Allah apa yang kamu nyatakan tidak kamu perbuat.

Ada sebua riwayat yang menceritakan mengapa doa tertolak yang saya kutip sebagian dari Harian Republika 24 Januari 2008 dalam kolom Hikmah :

Syaqiq Al-Balkhi bercerita ketika : Ketika Ibrahim bin Adham berjalan di pasar-pasar Bashrah, orang-orang mengerumuni beliau. Mereka bertanya, mengapa Allah belum juga mengabulkan doa mereka padahal telah bertahun-tahun berdoa, serta bukankah Allah berfirman, “Berdoalah kalian, maka Aku akan mengabulkan doa kalian”. Ibrahim bin Adham menjawab, “Hatimu telah mati dari sepuluh perkara “. Yakni yang pertama engkau mengenal Allah, ttapi tidak menunaikan hak-Nya. Kedua engkau membaca Kitab Allah ttapi tidak mau mempraktekan isinya. Ketiga engakau mengaku bermusuhan dengan Iblis, ttapi mengikuti tuntunannya. Keempat, engkau mengaku cinta rasul, ttapi meninggalkan tingkah laku dan sunnah beliau. Kelima , engaku mengaku senang surga, ttapi tidak berbuat menuju kepadanya. Keenam, engkau mengaku takut ke neraka, ttapi tidak mau mengakhiri dosa. Ketujuh, engkau mengaku kematian itu hak, ttapi tidak mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Kedelapan, engaku asyik meneliti aib-aib orang lain, ttapi melupakan aib-aib dirimu sendiri. Kesembilan, engkau makan rezeki dari Allah, ttapi tidak bersyukur pada-Nya. Dan kesepuluh, engkau menguburkan orang-orang, ttapi tidak mengambil pelajaran dari peristiwa itu.

Demikian kutipan riwayat Ibrahim bin Adham, harapan saya agar riwayat tersebut menjadi peringatan kepada kita sehingga doa yang kita panjatkan tidak tertolak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: