Resep Membangun Indonesia (1)

 

Negara Indonesia masih dikategorikan sebagai negara berkembang atau malah bagian dari negara yang masih underdog. Mengapa demikian? Yang pertama karena Negara Indonesia belum mampu melindungi secara maksimal bangsa dan rakyatnya baik di luar negeri bahkan di dalam negeri sendiri atas keselamatan jiwa dan raganya. Banyak bukti yang mengarah terhadap hal tersebut, berbagai kecelakaan transportasi baik darat, laut maupun udara, banjir dan longsor yang selalu menjadi langganan masih sulit untuk diatasi, TKI yang bekerja di luar negeri belum telindungi secara maksimal, bahkan warga negara Indonesia yang terhormat sekali pun tidak jarang mendapat perlakuan buruk di negara lain.

Yang kedua adalah Negara Indonesia belum mampu mensejahterkan rakyatnya hal ini bisa dilihat dari Index Pembangunan Manusia yang masih rendah, pemerataan hasil pembangunan yang belum seimbang, sampah yang belum teratasi, kemacetan di perkotaan, desa-desa miskin yang harus segera dibangkitkan potensinya, fasilitas kesehatan yang belum memadai, kualitas pendidikan yang masih jauh dari harapan dan masih banyak lagi.

Persoalan ini tentu harus disikapi dengan jiwa besar baik pemerintah maupun rakyat sehingga Indonesia keluar dari keterpurukannya. Pemerintah dan rakyat harus yakin bahwa setiap persoalan pasti ada penyelesainnya, dengan jiwa besar maka persoalan sebesar apapun akan menjadi kecil, sebaliknya persoalan kecil dengan jiwa kerdil akan menjadi besar. Jadi keterpurukan ini pun bisa diubah dengan jiwa besar menjadi kejayaan bangsa dan negara Indonesia.

Bagaimana memulainya? Yang pertama adalah meningkatkan kedisiplinan baik disiplin waktu, aturan dan program maupun disiplin dalam menuntut ilmu, yang harus dimulai dari diri sendiri baik rakyat maupun yang duduk dalam pemerintahan. Di Indonesia, kata disiplin mudah diucapkan bahkan sering diucapkan baik di pemerintahan maupun dalam obrolan warung kopi namun dalam pelaksanakannya tidaklah semudah membalik telapak tangan, padahal ini poin yang sangat penting bagi kemajuan sebuah bangsa. Banyak contoh kemajuan dan kesuksesan seseorang maupun sebuah negara bermula dari disiplin yang bisa kita baca dari biografi atau profil negara.

Persoalannya bagaimana menjadikan manusia hidup berdisiplin? Cara hidup berdisiplin seseorang tidak dilihat dari kepandaiannya semata tapi kesungguhan hati untuk melakukannya sehingga mendarah daging dalam kehidupannya, sekaligus menjadi contoh bagi siapapun. Sikap hidup berdisiplin sudah seharusnya dicontohkan oleh aparat pemerintah, sebab pemerintah adalah lokomotip kemajuan sebuah negara. Disiplin waktu adalah menepati setiap jadwal kerja yang telah dittapkan ini bermakna bahwa manusia mengikuti sistem keteraturan alam sebagaimana matahari yang terbit dipagi hari. Disiplin aturan adalah menepati aturan yang dibuat baik oleh Sang Maha Pencipta Semesta maupun yang dibuat oleh manusia (hukum positip), sebagai kewajiban yang harus dilaksanakan. Disiplin program artinya melaksanakan program dengan konsisten sesuai rencana yang bermakna manusia dalam hal ini pemerintah sebagai penguasa yang diamanahkan Tuhan untuk mengelola Bumi, maka manusia (pemerintah) dalam berprogram harus mempunyai komitmen kuat untuk berbuat baik terhadap alam dan mensejahterakan rakyat yang dipimpinnya.

Yang kedua adalah menyiapkan mental baja dan penuh dengan keberanian dalam mengahadapi segala tantangan dan rintangan yang menghadang, berani berkata benar, berani memperjuangkan yang hak dan berani mencegah kebatilan, berani dihukum jika berbuat salah atau melanggar aturan, berani menjaga tanah tumpah darah dan menjaga kedaulatan bangsa. Menumbuhkan sikap patriotik dan berjiwa pahlawan dalam menghadapi ancaman dari luar yang datang, dalam rangka menjaga kedaulatan negara, termasuk menghadapi intervensi, provokasi dan invasi baik secara fisik maupun diplomatik.

Pada saat ini yang dibutuhkan oleh bangsa dan negara dalam poin ini adalah keberanian untuk menerima kenyataan meski yang paling buruk, dan tak perlu malu menjadi bangsa Indonesia yang masih serba tertinggal. Dengan menerima kenyataan berarti modal untuk mengubah sesuatu dari buruk menjadi baik atau yang baik menjadi lebih baik, tinggal menetapkan program atau manuver atas perubahan tersebut. Sedangkan orang yang tidak menerima kenyataan berarti lari dari kenyataan dan akan merasa malu menjadi bangsa Indonesia dan menutup diri karena saking malunya. Syukur-syukur kalau malunya dalam arti positip sehingga bisa ikut membantu dalam mengubah Indonesia menapaki kejayaannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: