Pembelajaran dari Film Fitna

Oleh Andi Gunawan

Geert Wilders, anggota parlemen Belanda dari partai Kebebasan, pembuat film Fitna yang kontroversial, telah berhasil memprovokasi umat Islam dengan filmnya yang mendeskriditkan Al-Quran sebagai biang dari terorisme dari kalangan radikal Islam.

Film Fitna yang di edarkan oleh Liveleak sejak 27 Maret 2008 telah berhasil menyedot energi umat Islam dunia untuk memprotesnya dengan berbagai macam cara termasuk demontrasi diberbagai tempat di seluruh dunia.

Cara memprovokasi ini adalah cara yang biasa dilakukan oleh kalangan yang berfikir picik yang tidak senang dengan Islam. Cara ini juga dilakukan dalam bentuk lain seperti menggambar Nabi Muhammad sekaligus dengan teks yang menghina beliau.

Reaksi umat Islam yang berlebihan bahkan terkesan destruktif atas film itu atau bentuk penghinaan lainnya justru menjadi pembenaran bahwa cara menyelesaikan persoalan bagi umat Islam adalah dengan kekerasan. Tentu saja reaksi ini sangat menyenangkan bagi pembuatnya karena tujuan memprovokasi umat Islam tercapai.

Sifat radikal atau radikalisme atas nama agama tidak hanya dimiliki oleh sebagian umat Islam, pada umat agama lain pun sifat radikal ini juga ada atau bahkan lebih berbahaya dari sifat radikal umat Islam yang ditunjukan sekarang ini. Hal ini tentu bisa kita cermati dari sejarah panjang setiap agama melalui kajian yang ada dalam buku-buku sejarah.

Beberapa contoh sikap radikal yang agama lain dalam hal ini Kristen/Katolik diantaranya adalah peledakan bom di bandara Internasional Madrid oleh kelompok saparatis Basque ETA, peledakan bom dan serangan bersenjata oleh tentara IRA (separatis Irlandia Utara), cleansing etnis oleh Serbia terhadap warga Bosnia yang muslim.

Kekerasan atau radikalisme oleh sebuah negara pun kerap terjadi akibat penafsiran yang salah dan arogan terhadap negara lain, misalnya pendudukan atau invasi AS dan sekutunya terhadap Afganistan dan Irak. Kebencian Israel terhadap warga palestina dengan cara membom secara membabi buta didaerah sipil yang justru korban yang paling banyak adalah anak-anak dan wanita.

Kekerasan atau radikalisme oleh negara lebih berbahaya dari terorisme per individu atau organisasi mengingat korban yang jatuh lebih banyak.

Sikap radikal atau kekerasan tentu saja tidak bisa dibenarkan dalam menyelesaikan persoalan karena akan menimbulkan radikalisme atau kekerasan yang baru, namun harus dengan sikap yang penuh dengan toleransi sebab toleransi memberikan ruang diantara manusia untuk berbeda, dan kita harus menerima perbedaan itu sebagai rahmat.

Dalam kasus film fitna diharapkan umat Islam jauh lebih dewasa dalam bersikap, jangan sampai terprovokasi sehingga umat Islam berlaku destruktif. Kita anggap saja cara-cara Wilders sebagai angin lalu, hanya sekedar mencari popularitas, dan kita tidak perlu melakukan reaksi berlebihan dengan memblokir situs tertentu misalnya, sehingga energi kita tidak terkuras olehnya.

Harapan saya dan kita semua agar energi umat Islam senantiasa selalu diarahkan untuk ikut andil dalam mewujudkan perdamaian dunia yang penuh dengan toleransi dan kasih sayang. Amiin.

4 Balasan ke Pembelajaran dari Film Fitna

  1. Patrick AMP Manurung mengatakan:

    Boleh ya berbagi pkiran.
    🙂

    Kitab suci beberapa agama yang sempat terbaca memang banyak mengungkap keindahan & pentingnya berkasih-sayang. Disamping cerita-cerita yang lugas tentang indahnya toleransi, beberapa kitab suci yang sempat terbaca juga punya cerita-cerita yang multitafsir yang sering kali melahirkan sengketa makna para pengikutnya.

    Membaca kitab suci mungkin memang mesti hati-hati. Mungkin perlu “hati yang lebih besar lagi dan lebih besar lagi”, karena dibalik variasi makna yang akan terus lahir, kita hanya punya satu bumi.

    Saya lebih berselera agar kita lebih toleran terhadap banyak perbedaan diantara manusia, karena toh, walau kita punya kesamaan, titap saja tak bisa sama.

  2. Andi Gunawan mengatakan:

    Saya setuju dengan pendapat Anda, untuk senantiasa memberi ruang pada toleransi dan perdamaian, mari kita berjiwa besar untuk meraihnya, karena kita satu bumi mari kita berbagi.

  3. phreakaholic mengatakan:

    lakum dinukum waliyadiin🙂

    ___________
    http://phreakaholic.wordpress.com

  4. ade tiwi mengatakan:

    kun fayakun …………..
    saya setuju dengan pendapat anda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: