Artikel Mr. Jakob Sumardjo pada Harian Kompas Luar Biasa

Oleh Andi Gunawan

Artikel yang berjudul “Zaman Emas Indonesia” pada harian Kompas memang luar biasa, isinya sangat senada dengan apa yang ada dalam benak saya, artikel yang berani dan bernilai bagi bangkitnya bangsa Indonesia dari keterpurukan, ini membuat rasa nasionalisme saya semakin menguat, saya berharap saudara sebangsa dan setanah air juga demikian adanya.

Dalam artikel yang ditulis oleh esais Mr. Jakob Sumardjo menawarkan solusi untuk pemerintah agar bertindak tegas kepada koruptor, pemerkosa, pembunuh dan penjahat kemanusian lainnya dengan hukuman mati bahkan tembak ditempat yang berlaku pada siapapun, tindakan itu sepertinya tidak berperikemanusian, namun sesungguhnya adalah demi perikemanusian, bukan perikejahatan.

Walau masih berupa impian, namun saya yakin dan optimis pada masa yang akan datang akan ada Zaman Emas Indonesia.

Di bawah ini adalah artikel Mr. Jakob Sumarjo selengkapnya, yang saya kutip dari Harian Kompas, Sabtu, 12 April 2008, pada kolom opini :

Zaman Emas Indonesia

Kapan waktunya dan siapa presidennya, belum diketahui. Namun, keberadaannya jelas karena logikanya juga jelas, yaitu potensi alamnya yang luar biasa, dan jumlah penduduknya yang begini besar tak mungkin goblok semua.

Saat itu presidennya tegas dan keras, tidak takut mati dan tidak takut kehilangan pendukungnya. Hatinya baik, tidak ada pkiran uang sama sekali karena sejak bayi sudah kaya-raya. Ketegasannya mendapat dukungan seluruh rakyat miskin di Indonesia, yaitu dalam melenyapkan korupsi, kejahatan dasar yang membuat negara ini hampir saja pecah belah.

Koruptor yang diketahui menilep uang negara satu miliar ke atas langsung dihukum mati karena yang antre untuk diadili begitu panjang. Koruptor di atas setengah miliar dipotong tangannya dan dipenjara seumur hidup. Yang korup seratus juta ke bawah dihukum seumur hidup. Khusus perkara korupsi tidak ada naik banding menurut hukum negara yang disetujui DPR, yang anggota-anggotanya cerdas, baik hati, tak banyak bicara, ttapi lebih banyak berpkir.

Dalam waktu satu tahun pertama pemerintahannya, nafsu orang yang ingin korup langsung lenyap. Hampir tiap hari ada koruptor dihukum mati, sampai banyak yang tak sempat disiarkan media. Keluarga koruptor yang dihukum mati, saat itu, tak mau mengubur sendiri, takut kerandanya ditimpuki rakyat miskin yang marah.

Demi perikemanusiaan

Pers dalam dan luar negeri cerewet menantang pemberantasan korupsi yang mereka nilai biadab dan melanggar hak asasi manusia ini. Namun, presiden kita memang orang berani. ”Saya tidak takut masuk neraka,” katanya kepada para juru kritik. ”Dalam situasi luar biasa, diperlukan tindakan luar biasa,” tambah wakil presidennya yang sama-sama batu karangnya.

Dalam waktu dua tahun pertama masa kepresidenannya, tak seorang pegawai negeri pun berani mangkir kerja tanpa surat dokter negeri. Orang berseragam pegawai negeri tak ada di jalanan, apalagi mal. Merokok pun tak berani, kecuali saat istirahat. Tiba-tiba seluruh pegawai negeri sibuk bekerja karena tugasnya tak habis-habis, semua melalui prosedur yang semestinya. Orang yang suka menyogok pegawai pun tak berkutik akibat semua pegawai negeri tak butuh sogokan, takut dipecat hari itu juga.

Para polisi di jalan raya dan di tempat lain tak lagi membawa pistol. Mereka hanya dibekali pentungan karet. Semua pengguna jalan tertib, antrean lama tak mengapa, karena tilang langsung dengan denda tinggi amat menakutkan. Para pengguna jalan ini patuh membayar denda tinggi karena yakin, uang denda benar-benar masuk kas negara.

Meski polisi tidak bersenjata, nyali para penjahat juga kecut karena yang diketahui membunuh korban langsung dihukum mati. Utang nyawa bayar nyawa, itulah semboyan di pojok-pojok toko. Para pemerkosa dihukum seumur hidup. Dua kali memerkosa dihukum mati. Di mana sila Perikemanusiaan dalam Pancasila? Jawab presiden, ”Itu semua dilakukan demi perikemanusiaan. Bukan perikejahatan!”

Setelah pemberantasan biang kekacauan, berangsur-angsur negara Indonesia membutuhkan tambahan pegawai. Karena tak ada lagi budaya sogok, hanya mereka yang benar-benar mampu di bidangnya dapat diterima. Kerja pembangunan bisa dilaksanakan. Tidak ada rencana pembangunan yang tak berhasil karena semua dana utuh sampai selesai. Jalan-jalan mulus. Kemacetan tak ada lagi akibat pembangunan jalan layang bagai kabel listrik di kota-kota besar. Dan subway dibangun di mana-mana.

Ibu kota negara dipindah ke Kalimantan, di tengah-tengah kepulauan Indonesia. Itulah Washington Indonesia. Jakarta adalah New York-nya Indonesia. Bandara seperti Soekarno-Hatta dibangun di 20 kota besar Indonesia. Semua berasal dari uang negara yang 100 persen selamat. Coba tahun 1970-an sudah begini, Indonesia akan disebut macan Asia nomor dua setelah Jepang.

Syarat kesuburan

Pada pemerintahan kedua, turis Indonesia ditunggu-tunggu di negara-negara ttangga. TKI dan TKW telah lenyap sejak pemerintahan pertama hampir berakhir. Bahkan, TKW lain bangsa masuk Indonesia.

Turisme bukan lagi slogan. Menteri Pariwisata paling sibuk bekerja. Pada malam hari, lampu kantor ini tak pernah padam. Devisa sektor ini melebihi pendapatan pajak, pertambangan, pertanian, kehutanan. Para turis dimanja karena aman, transpor tepat waktu, dan ”Bali-Bali” baru bertebaran di Indonesia.

Nilai mata uang rupiah yang puluhan tahun bikin malu bangsa (negara sama sekali tak malu) diturunkan menjadi satu dollar AS setara satu rupiah RI. Bayangkan kalau kekayaan negara dihitung dalam nilai mata uang lama akan membingungkan kepala akibat triliun dari triliun dan triliun rupiah. Harga mobil paling mewah cuma Rp 200.000. Gaji pegawai negeri paling top Rp 70.000. Recehan satu sen ada di kantong tiap warga negara.

Setelah pemerintahannya yang kedua berakhir, presiden dan wakil presiden kita pensiun. Meski rakyat ttap ingin memilihnya, keduanya ttap menolak karena tak sesuai dengan undang-undang. Penggantinya tidak sehebat presiden kita itu, ttapi tak apa sebab seluruh bangsa telah memasuki budaya baru, yaitu budaya bersih. Orang takut, namanya masuk koran meski cuma nyopet jam tangan.

Impian tata temtrem kerta raharja, adil makmur ternyata bukan omong kosong dongeng anak-anak. Kuncinya hanya satu, tembak mati para maling negara, entah jemaah maupun perorangan. Ibu Pertiwi akan bersimbah darah para penjarah, ttapi itulah syarat kesuburan.

Jakob Sumardjo Esais

Demikian artikel yang saya kutip dari Kompas, harapan saya dapat menggugah nasionalisme Anda semua, untuk selalu berbuat yang terbaik bagi bangsa dan negara Indonesia, Ayo Bangkit Indonesia …!!!

Dari Penulis : Untuk menguatkan artikel Mr.Jakob Sumardjo, khususnya dalam menghukum koruptor, pembunuh dan pemerkosa dengan hukuman mati akan saya buat artikel tentang “Hukuman mati dalam Islam”

6 Balasan ke Artikel Mr. Jakob Sumardjo pada Harian Kompas Luar Biasa

  1. djunaedird mengatakan:

    Yakob Sumardjo memang piawai dalam mengemukakan ide.😛
    Ditunggu artikelnya.😀

  2. Patrick AMP Manurung mengatakan:

    Trims sudah di-unggah kesini. Barusan nyari ke Kompas malah gak ketemu. Tulisan yang bersemangat & bagus banget walau saya belum bisa setuju sama hukuman mati & potong tangan.

  3. Andi Gunawan mengatakan:

    Pendapat saya : tidak usah takut dengan hukuman mati atau potong tangan, karena yang paling penting adalah kita tidak berbuat yang melanggar aturan. Hukuman ditujukan bagi si pelanggar aturan, berbuat kriminal dan asusila. Terima kasih sudah berkunjung dan salam kenal dari saya.

  4. suciptoardi mengatakan:

    mmmmm….*alis mata sebelah kanan mengangkat*…

  5. Trihatmoko mengatakan:

    Saya selalu mengagumi tulisan Beliau. Dulu ada buku kumpulan tulisan beliau catatan dari luar pagar. bagus sekali. Apakah bisa mendapat alamat emailnya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: