Fenomena Ujian Nasional

Oleh Andi Gunawan

Dalam menyikapi Ujian Nasional (UN) sebagian besar bangsa Indonesia terlihat emosional, suatu sikap yang biasa dilakukan bangsa ini bila menghadapi sesuatu yang dianggap merugikan. Seharusnya sikap yang diambil adalah sikap rasional dan realistis, kita harus berpandangan bahwa UN mempunyai manfaat yang banyak dimasa depan dalam menghadapi kompetisi bangsa-bangsa dalam persaingan global (baca juga artikel saya Ujian Nasional dan Persaingan Global ).

Ujian Nasional sesungguhnya bisa dibaratkan seperti jamu, rasanya pahit bila diminum namun berguna untuk diri kita apalagi dalam kondisi badan yang loyo, stamina dapat fit kembali setelah minum jamu.

UN memang seakan dipaksakan oleh pemerintah (sama seperti minum jamu harus dipaksa atau minumnya kadang terpaksa) yaitu dalam rangka akselerasi peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia. Sedangkan kondisi pendidikan di Indonesia hari ini masih jauh dari menggembirakan ini bisa terlihat dari minimnya sarana pendidikan, kualitas guru yang kurang memadai serta kesiapan sekolah-sekolah di daerah yang masih memprihatinkan.

Apabila kita perhatikan pelaksanaan UN membuat sibuk insan pendidikan secara nasional, mulai dari murid itu sendiri, orang tua murid, guru-guru sampai pemerintah baik di pusat maupun di daerah. Insan pendidikan tersebut seperti kebakaran jenggot baik dalam hal mempersiapkan pelaksanaanya maupun harapan target kelulusan yang harus tinggi atau 100 persen.

Adapun fenomena yang sesungguhnya dalam meningkatkan kualitas pendidikan, ada pada kegiatan murid dan guru, mereka sibuk mempersiapkan melalui bimbingan belajar, pendalaman materi, pengerjaan soal-soal (try out) serta kesibukan non teknis seperti doa bersama dan istighosah. Fenomena ini tidak akan terjadi manakala ujian yang diselenggarakan bukan UN. Belajar secara intensif tentu bagus dalam menghadapi UN, karena setiap ujian yang kita hadapi tentu kita harus siap, sedangkan proses belajar tidak semata-mata untuk mengadapi ujian di sekolah terlebih Ujian Nasional tapi proses belajar merupakan sarana pembelajaran bagi kehidupan yang lebih baik di masa datang.

Fenomena lainnya adalah sikap guru-guru yang tidak siap dengan UN, serta melihat ketidakmampuan muridnya dalam mengerjakan soal, seperti yang terjadi di SMAN 2 Lubuk Pakam, Deli Serdang Sumut. Mereka mengubah jawaban atau mengisi jawaban UN yang kosong pada lembar jawaban murid-muridnya. Aksi mereka tertangkap tangan oleh satuan Densus 88 Polda Sumatera Utara ketika sedang mengubah LJUN Bahasa Inggris, dalam operasi penggerebekan tersebut polisi anti teroris tersebut sempat meletuskan senjata apinya.

Fenomena lainnya adalah ketidaklulusan 100% di sebuah SMA di Ibu Kota Jakarta, yaitu SMA Villa Mas, ini sangat mencerminkan ketidak-siapan insan pendidikan dalam menghadapi UN, sebuah SMA di Jantung Kota tidak siap dengan UN (apalagi di daerah), seakan membuktikan kepada pemerintah untuk membenahi dulu sarana dan prasarananya baru mengadakan UN.

Sedangkan fenomena dari pemerintah setelah melihat berbagai kejadian UN yang memprihatinkan dan yang paling bertanggung jawab atas keberhasilan UN, tidak menunjukkan tanda-tanda pro terhadap peningkatan kualitas pendidikan, Lho koq bisa. Tentu saja bisa, buktinya adalah menurunnya prosentase dan nominal pada APBN 2008 untuk pos pendidikan dan tidak terpenuhinya amanat UUD 45 yang mensyaratkan anggaran pendidikan minimal 20% dari APBN. Jika ini terus berlangsung tentu kita khawatir akan masa depan pendidikan di Indonesia, sedangkan pendidikan sangat berpengaruh terhadap kualitas suatu bangsa dan kemajuan negara.

Nah, jika pemerintah sedang loyoo … bagaimana sikap anda dalam memajukan pendidikan di Indonesia ….

Satu Balasan ke Fenomena Ujian Nasional

  1. sebenarnya untuk meningkatkan kualitas pendidikan bukan dari diadakannya UN, akan tetapi lebih kepada mendidik kesadaran para siswa nya untuk belajar dan dukungan penuh untuk sistem pendidikan, UN malah banyak menimbulkan hal negatif, ada yang stress, bahkan sampai bunuh diri…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: