Kebangkitan Nasional dan Euphoria Perayaannya

Oleh Andi Gunawan

Kebangkitan Nasional ke dua harus menjadi titik balik keterpurukan menuju kemajuan bangsa dan Negara di berbagai bidang kehidupan. Saya khawatir kebangkitan nasional ke 100 hanya berhenti pada euphoria perayaannya dan tidak dikmanai dengan kebangkitan yang sesunggunya pada kehidupan nyata.

Euphoria sebuah perayaannya selalu ditandai dengan pembentukan panitia, sambutan petatah petitih dari tokoh masyarakat atau nasional, gegap gempitanya respon hadirin karena terbakar semangatnya, doa bersama, setelah itu bubar. Dengan berakhirnya acara maka berakhir pula semangat menggebu dari seluruh yang hadir. Kita menjadi lupa terhadap point penting (isi dari acara) yang harus dimplementasikan.

Saya berharap lagu lama di atas tidak terjadi pada Hari Kebangkitan Nasional ke 100, dan sebagai kebangkitan nasional Indonesia yang kedua sungguh tepat ini bila dijadikan momentum bangkitnya bangsa Indonesia dari keterpurukan.

Tokoh-tokoh nasional yang hadir dalam berbagai pertemuan dan perayaan harus mampu mengimplementasikan dengan sungguh-sungguh apa yang telah disampaikan dan menjadi komitmennya untuk membangun Negara mulai dari hal kecil namun bermakna, hal-hal yang mendasar sampai ke hal-hal besar yang mengarah kepada kemajuan Negara.

Sebagai sebuah ilustrasi, bagaimana tokoh nasional menjadi agen perubahan untuk masalah kebersihan kota atau nasional. Persoalannya seperti sepele namun kenyataanya bahwa tingkat kebersihan di Indonesia sungguh memprihatinkan, bagaimana tidak memprihatinkan Indonesia dikenal sebagai jamban terpanjang di dunia, orang membuang sampah sembarangan, sampah menumpuk di ruang publik dan sebagainya, sungguh memalukan namun kenyataanya seperti itu.

Tokoh nasional harus mampu menjadi agen perubahan untuk hal yang (mungkin) sepele, ket –tokoh-annya bisa dipertaruhkan pada bersih atau tidaknya kota atau wilayah, bukan berarti tidak percaya pada pemerintah daerah atau pusat yang pada kenyataanya memang tidak mampu, namun seorang tokoh sudah seharusnya mampu menggerakan moral masyarakat untuk berbuat yang terbaik untuk lingkungannya. Jika untuk hal (sepele) ini saja tidak mampu jangan harap tokoh nasional tersebut akan mampu menjadi lokomotip dalam menggerakan gerbong kebangkitan nasional Indonesia yang kedua, mereka hanya berdiri di menara gading, dan sungguh tidak pantas untuk menyandang tokoh nasional atau masyarakat.

Tokoh-tokoh nasional ini, paling tidak harus mencontoh tokoh nasional pada era kebangkitan nasional pertama, mereka berjuang tanpa pamrih, tiada lelah dan terus berjuang sebelum berhasil, yang ada dalam benak para tokoh (pahlawan) tersebut adalah berjuang, tak peduli sampai kapan. Di tengah lautan perjuangan yang dihadapinya, mereka tidak pernah mengeluh atas situasi dan kondisi yang serba sulit saat itu, yang ada dalam benaknya bagaimana mengatasi kondisi itu demi sebuah perbaikan kehidupan generasi mendatang.

Satu Balasan ke Kebangkitan Nasional dan Euphoria Perayaannya

  1. economatic mengatakan:

    Setuju Pak Andi, tapi tokoh nasional terdahulu kebanyakan adalah orang yang ikhlas dalam melakukan apapun demi kemajuan Bangsa. Apakah kita bisa menemukan figur-figur semacam itu saat ini? Tentunya inilah PR besar buat kita semua. Saya harap Andalah tokoh itu.
    Salam Kenal http://economatic.wordpress.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: