Kebangkitan Nasional Indonesia dan Sikap Bangsa

Oleh Andi Gunawan

Optimis akan bangkitnya Indonesia dari berbagai keterpurukan harus didasarkan pada langkah strategis, teknis dan operasional yang jelas, bukan sekadar angan-angan tanpa kerja keras dan karya nyata atau bermimpi disiang bolong.

Optimis, harapan, semangat dan keyakinan akan sebuah kebangkitan adalah keharusan yang tidak bisa di tawar bagi setiap elemen bangsa sedangkan perasaan miskin, minder dan bodoh harus dibuang jauh-jauh dari benak kita.

Nilai dan sikap positip seperti di atas yang ada pada setiap pribadi manusia Indonesia harus terus dibangkitkan dan tetap menyala-nyala dalam memperjuangkan kebangkitan nasional Indonesia kedua, tanpa itu semua kebangkitan nasional seperti tubuh tanpa ruh.

Untuk menumbuh-kembangkan nilai-nilai dan sikap postip dalam kehidupan sehari-hari tidaklah semudah membalikan telapak tangan, harus diajarkan kepada anak-anak sedini mungkin. Oleh karena itu sistem pendidikan yang baik dan sarana penunjangnya harus dijadikan langkah strategis kebangkitan nasional kedua.

Pendidikan yang mengajarkan nilai dan sikap yang baik akan menstimulus peserta didik untuk berlaku cinta kepada tanah airnya dan sesamanya serta mengajak bangsanya pada kehidupan yang lebih baik. Mewujudkan kehidupan yang lebih baik adalah bentuk kebangkitan nasional, yang tentunya harus selalu ditingkatkan sampai kepada tingkat dimana kehidupan bangsa Indonesia layak dijadikan contoh bagi bangsa lain.

Sistem pendidikan yang baik tidak sekedar mencetak peserta didik menjadi pandai atau mencetak tenaga kerja ahli atau trampil. Sistem pendidikan yang baik adalah menjadikan peserta didik menjadi dirinya yang diarahkan agar memahami fungsi dirinya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sehinga menjadi kader dan pemimpin bangsa yang mumpuni.

Siap menjadi kader dan pemimpin bangsa adalah sikap terbaik dari peserta didik sebagai awal bagi kebangkitan nasional sekaligus indikator keberhasilan pendidikan di Indonesia. Dengan siap menjadi pemimpin bangsa berarti peserta didik akan mempersiapkan diri untuk mewujudkannya dengan nilai-nilai dan sikap positip lainnya.

6 Balasan ke Kebangkitan Nasional Indonesia dan Sikap Bangsa

  1. faridyuniar mengatakan:

    Mencerahkan. Sip.
    Indonesia Bisa…!!!!

  2. arifrahmanlubis mengatakan:

    salam kenal.

    kuncinya memang di pendidikan🙂

  3. […] Kebangkitan Nasi0nal Kebangkitan Nasional Indonesia dan Sikap Bangsa […]

  4. Robert Manurung mengatakan:

    setuju. Tapi perlu juga kita kon solidasikan kembali kekuatan kebangsaan kita. Lebih bagus lagi kalau bisa rekonsiliasi politik mengenai geger tahun 1965 dan 1998, supaya jangan mengganggu langkah bangsa ini menderap maju.

    Aku juga memposting artikel mengenai perlunya revitalisasi kebangsaan kita :

    http://ayomerdeka.wordpress.com/2008/05/28/meneguhkan-kembali-keindonesiaan-kita/

    terima kasih

    Salam Merdeka

  5. Dasman Djamaluddin mengatakan:

    MENGGUGAT HARI KEBANGKITAN NASIONAL

    Oleh Dasman Djamaluddin (http://dasmandj.blogspot.com/)

    SAYA diundang oleh rekan saya Kepala Museum Kebangkitan Nasional, Edy Suwardi menghadiri seminar menyambut Hari Kebangitan Nasional, Kamis, 16 Juni 2010, di Jakarta. Seminar yang diselenggarakan sangat menarik karena kehadiran Prof Ahmad Mansur Suryanegara, pakar Sejarah Islam dari Universitas Padjadjaran, Bandung. Di samping itu ada pula Asvi Warman Adam, Sejarawan dari LIPI.

    Berpenampilan bersahaja, pakaian dan rambut rapi, warna rambut sudah memutih, maklumlah sudah berusia 74 tahun, Ahmad Mansur Suryanegara meragukan Hari Kebangkitan Nasional dikaitkan dengan Sejarah Budi Utomo 20 Mei 1908. Menurut Ahmad Mansur Suyanegara, Gerakan Budi Otomo adalah gerakan lokal, hanya diperuntukkan untuk suku Jawa, apakah harus dikatakan sebagai kebangkitan nasional? Bahkan suku lain tidak diizinkan masuk ke dalam gerakan tersebut. “Saya ingin kita mengevaluasi Hari Kebangkitan Nasional tersebut,” tegas Ahmad Mansur

    Sebagai pakar Sejarah Islam, Ahmad Mansur Suryanegara juga menyinggung keberadaan suku Minangkabau yang dikatakannya sebagai penggerak aliran komunis di Indonesia. Disebutkannya beberapa nama, seperti Tan Malaka. “Namun demikian,”ujarnya lagi “banyak juga Suku Minangkabau menjadi pemuka Agama Islam, seperti Hamka,” tambahnya.

    Saya pribadi menyambut baik gagasan Ahmad Mansur Suryanegara ini sebagaimana pendapat Asvi Warman Adam yang juga mengatakan jika menulis G.30.S tanpa PKI. Menurut saya ini merupakan sumber-sumber yang mengajak bangsa ini lebih kritis melihat suatu permasalahan, sekaligus mengajak untuk menelusuri lebih jauh sejarah bangsa, tidak sekedar meng “Iya” kan atau sebaliknya. Sudah saatnya para sejarawan menggali hal-hal atau penemuan-penemuan baru yang jika keliru bisa diperdebatkan lagi, sehingga kita tidak terpaku kepada pendapat para ahli dari luar negeri semata-mata. Tidaklah mungkin kita percaya seratus persen dengan pendapat para ahli luar negeri yang sedang mengkaji masalah bangsa Indonesia, di bandingkan dengan para ahli dari dalam negeri sendiri yang adalah bangsa Indonesia sendiri.

    Ya, pada saatnya pula kita harus berbicara mengenai keterbatasan Saya ingin menggaris bawahi mengenai suku Minangkabau yang juga dikategorikan sebagai pemberontak dan disebut pula oleh Ahmad Mansur Suryanegara, yaitu Ahmad Husein, Pemimpin PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia). Hal ini saya bantah, karena sebelum meninggalnya, saya dua kali bertemu Ahmad Husein. Dia mengatakan, bahwa PRRI adalah pemberontak, itu tidak benar. “Kami bukan pemberontak,”ujarnya. “Kami hanya melakukan koreksi total kesenjangan antara pemeintah pusat dan daerah, selain mengingatkan Presiden Soekarno tidak terlalu dekat dengan Partai Komunis Indonesia,” tegas Ahmad Husein yang waktu itu sudah sakit-sakitan di kursi rodanya.

    Kembali mengenai keterbatasan ini, saya ingin mengutip pernyataan Dr.Alfian (alm), salah seorang sejarawan Indonesia yang terkenal pada masanya. Di dalam sebuah pengantar buku:”Meluruskan Sejarah karya B.M.Diah,” Alfian mengatakan bahwa sesuai dengan tuntutan profesi keilmuannya, para ahli sejarah tentu berusajha keras untuk bersikap obyektif dalam menulis karyanya. Sungguh pun begitu, ujarnya, jauh di lubuk hati dan alam pikirannya, mereka mengetahui betul bahwa mustahil bagi siapa saja, betapa pun pintar dan ahlinya, untuk menghasilkan tulisan sejarah yang dapat dikatakan betul-betul obyektif dan sempurna. Sebuah tulisan sejarah memang dapat dikatakan, ditinjau dari segi mutu dan sebagainya, lebih obyektif dan lebih sempurna dari karya-karya lainnya. Tetapi tulisan tersebut tidaklah dapat dikatakan sebagai sesuatu yang final atau sebuah karya tanpa kelemahan dan kekurangan sama sekali. Di samping banyak tulisan sejarah yang buruk dan tidak bermutu, biasanya ada sejumlah karya yang dinilai baik dan berkualitas tinggi.

    Bagaimana pun juga, tegas Alfian, para ahli sejarah sendirilah yang pertama-tama mengakui bahwa tidak ada tulisan sejarah yang betul-betul sempurna, dan juga betul-betul lurus.

    “Itulah antara lain sebabnya mengapa sejarah merupakan salah satu bidang studi yang bagaikan sumur penelitian yang tak pernah kering atau lahan pengkajian yang tak pernah habis. Dari waktu ke waktu, dari generasi ke generasi, berbagai ahli datang menimba atau menggarapnya, dan dari situ lahir karya-karya sejarah baru memperkaya khasanah yang sudah ada yang terus membesar,” jelas Alfian.

  6. kontraktor palembang mengatakan:

    selamat idul fitri 1 syawal 1435

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: