Puisi tentang Tuhan dan Tuan

Februari 18, 2008

 

Tuan bukanlah Tuhan

 

tuan memberi kami kerja

tuan memberi kami harta dan

secuil kesejahteraan

tuan pula yang memberi kami sepotong

roti dan segelas susu

 

tetapi Tuhan tidak?

 

tuhan memberi kami keyakinan

bahwa pekerjaan, harta, sepotong roti

dan segelas susu hakekatnya dari Tuhan

bahkan tuan hidup karena Tuhan

 

tuan nampak memberi kami solusi

dan jalan mudah

namun nyatanya

jalan itu berbelit dan fana

 

bagaimana solusinya tuan?

 

tuan mengatur ini dan itu

bersama tuan-tuan yang lain

mengatur si A dan Si B

begini dan begitu

 

tapi mengapa 

kami selalu tak puas

dengan apapun yang tuan atur ?

buktinya kami sering turun

ke jalan mencari Tuhan

 

setahu kami bahwa Tuhan

tidak memberi kami jalan mudah

Tuhan menghadiahi kami

jalan mendaki lagi sulit

jalan keabadian menuju surga Tuhan

 

kami tidak protes

atas apa yang sudah Tuhan atur

bahkan bencana sekalipun

 

Tuhan atur semesta

dan semesta pun patuh pada Tuhan.

Tuhan juga atur tuan dan kami

tapi tuan dan kami sering alpa

yang telah Tuhan atur

 

tuan mengatur kami

berhak-kah tuan mengatur kami

tanpa persetujuan Tuhan?

 

setahu kami ya tuan

yang berhak mengatur kami dan tuan

tidak lain adalah Tuhan

 

alasan apa tuan tidak patuh pada Tuhan?

 

bukan-kah hidup tuan karena Tuhan

dan tuan pasti mati

kemana tuan setelah mati?

tuan akan kembali pada Tuhan

 

Tuhan tidak mati

kalau Tuhan mati

kepada siapa tuan kembali

 

 

Bekasi, 2006

Iklan

Cinta Anak Manusia

November 29, 2007

Serupa gelora cinta anak manusia  
Di laut, ombak bergulung berirama
Binatang malam bersenandung riang
Orkestra alam pada sebuah penciptaan
Sehabis hujan senantiasa terjaga

Pucuk dedaunan merindukan belaian angin
Nyiur melambai
Derak suara bamboo
Gemericik air pancuran
Dan gerimis pertama pada kemarau tahun ini
Seperti aroma perawan
Menggelorakan aura cinta
Hangat

Dan jantung berdegup tak berirama
Untuk setiap lelaki  
Seperti aku

Jakarta, Agustus 2005 


Rindu Yang Senyap

November 29, 2007

Di pelupuk kutitipkan gundah
Untuk rasa rindu yang senyap
Membisu untuk setiap makna
Cinta dua insan
Menggebu hanya di ronga dada
Seperti desingnya peluru senapan mesin
Seperti tikaman belati
Ketika kubisikan sebuah janji
Yang terpendam di palung hati
Bekasi, Desember 2005


Fatamorgana

November 26, 2007

Malam itu …
Kalian dipeluk duka
Dipeluk luka

Menanti pagi
Pada malam tak bertepi
Asa hilang di lorong materi
Jiwa yang terbuang
Seperti dahaga
Menggelayut di kerongkongan
Di gurun sahara
Hanya fatamorgana


Jakarta, Agustus 2005


Cerita Mawar-ku

November 25, 2007

Mawar tak ingin lagi mengirimkan aroma
Dendang mewangi isyaratkan kumbang
Hanya sebuah gemulai memaksa diri
Ditiup angin membisu hingga suarakan alam

Kumbang senantiasa terjaga kibaskan sayap
Mendengung mendengarkan isyarat-isyarat alam
Dari angin membisu bawakan wewangi mawar

Kumbang terus mendengung kibaskan sayap
Kumbang terus kitari mawar
Menggoda sejumput rasa
Tak peduli akan duri
Bahkan mungkin lupa diri

(oi .. demi pembuahan, simbiosis mutualisma)

Mawarpun terdiam, hanya gemulai
Perlahan diusik kumbang suarakan alam

Bandung, 1995

 


Elegi Cinta untuk Seorang Teman

November 25, 2007

Kubuka pintu dan jendela hati untukmu lebar-lebar
Kupersilakan kamu gelitik hatiku, aku kegelian
Dan kamu pun tersenyum, hingga aku, hem ..kamu biarkan
Meramu sejuta perasaan antara kegembiraan dan kesedihan

Hari-hari yang berganti tahun telah berbilang
Kamu ulangi dendang keresahaan hatiku
Untuk semangkuk benih cinta padamu
Yang lama tersimpan dalam saku batinku
Tapi setelah itu kamu pergi, asa kembali terkubur
Dalam kilatan kata-kata mendayu yang selalu kabur
Menutup hari untuk tiap dendangmu dan langkahku

Ah .. perjumpaan itu,
Hanya mengukir cita dan cinta dengan pahatan waktu
Lalu kamu mulai menghitung hari
Pada tik-tok jam

Bandung, 1995


Pelacur Itu Berlari Membawa Kehampaan

November 25, 2007

{gerimis setelah hujan badai, dingin
menusuk tulang, angin bekerjaan sepoi saja }

Pelacur itu termenung dalam
Sebab sejak lama ia mengubur cita

Pelacur itu kemudian tersedu
Sebab sejak lama ia mengubur cinta

Pelacur itu menjerit histeris
Sebab baru saja ia mengubur bayinya
Yang entah siapa bapaknya

{Hujan badai kembali datang dicampur
kilat yang membahana}

Pelacur itu bergeming dengan tatap kosong
Berjalan dengan kecamuk hati
Dibawah kilat yang menyambar

Pelacur itu berlari membawa kehampaan
Menuju ke tepi jurang kehidupannya
Hingga pada lembah yang tak termaafkan

Jakarta, Pebruari 2006